Emansipasi

Untuk saat ini bisa dibilang istilah emansipasi wanita menjadi tolak ukur disetarakannya hak kaum hawa dengan adam. Jika dirujuk pemicu utama tuntutan ini adalah pandangan miring terhadap peran wanita dan terbatasnya ruang gerak mereka. Atau berdasarkan kasus yang menimpa Kartini misalnya, disebabkan oleh pembatasan hak wanita dalam pendidikan, otoritas, kedudukan di muka hukum (legalitas), dan banyak lainnya. Pandangan miring terhadap wanita ini sejatinya tidak berdasar, apalagi dilihat melalui kacamata Islam. Bahkan kehadiran Islam sendiri salah satunya adalah untuk membebaskan ketertindasan yang dialami kaum hawa. Sosok wanita dalam Islam sangat berharga untuk dinilai. Sampai-sampai Nabi Muhammad menyanjungnya dengan ungkapan “sebaik-baiknya perhiasan dunia”. Namun tunggu dulu, kaum hawa jangan bangga dulu, sanjungan itu hanyalah untuk wanita yang berpredikat “sholihah”.Penghormatan Islam terhadap wanita ini sudah ada jauh sebelum Kartini “memberontak” untuk diberi hak perannya. Seorang Orientalis bernama Karen Armstrong bahkan mengakuinya, dia menulis: “Emansipasi wanita adalah sebuah proyek yang didukung oleh Nabi. Al-Qur’an sudah memberi wanita hak warisan dan perceraian berabad-abad sebelum wanita Barat memperoleh status ini.”  (Karen Armstrong, Islam A Short History, (London: Phoenix Press, 2002), p. 20) Pemberontakan yang dilakukan Kartini ini menarik jika dilihat melalui kondisi wanita Indonesia pada waktu itu. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa Kartini “berjasa besar” dalam menghantarkan kaum wanita Indonesia menuju mimbar kehormatan dan gerbang kebebasan. Namun yang harus dipahami dan wajib ditekankan adalah bahwa kebebasan bukan berarti kebablasan. Merunut realita saat ini, wanita modern tidak lagi dipandang sebelah mata, mereka lebih dihargai dan dihormati. Kaum wanita telah banyak meniti karir, pendidikan, politik, bahkan memiliki jabatan yang melebihi kaum pria. Terlebih agaknya sudah menjadi slogan bersama bahwa wanita modern adalah wanita karir dengan pendidikan yang tinggi. Tidak berkarir adalah tidak modern, begitu kira-kira.

Ironisnya, karena terlalu sibuk meniti karir, para wanita seakan lupa menyadari dan mengabaikan tugas utamanya dalam keluarga dan lingkungan sosial. Format produktifitas kerja menuntut mereka untuk bekerja secara profesional yang imbasnya menyita waktu dan pikiran. Walaupun dari sini para wanita karir tersebut mendapat materi sebagai imbalan. Pada posisi ini, sebenarnya wanita telah “dipolitisasi” menjadi sekedar bagian dari industri kapitalis. Akibatnya, wanita banyak mengorbankan waktunya sehingga keluarga yang seharusnya menjadi prioritas utama terabaikan dan terbengkalai. Kasus ini tidak lebih seperti budaya masyarakat Barat yang materialistis, yang mengukur segala sesuatu dari materi. Ditambah dukungan kaum feminis menjadikan para wanita tergiring ke luar rumah, berkarier dengan bebas dan tidak tergantung lagi pada laki-laki. Dalam Islam sendiri sudah disediakan tatacara wanita muslimah untuk berperan secara kaffah. Belum pernah ada sejarah yang memberikan tuntunan secara modern dan sempurna selain Islam. Islam tidak melarang seorang muslimah untuk belajar maupun bekerja. Bahkan Islam tidak menghendaki wanita hanya tinggal diam di dalam rumah saja. Terkait hal itu, Islam telah memberi rambu-rambu bagi wanita yang ingin meniti karir, baik dalam bidang pendidikan, politik, dan bentuk pekerjaan sosial lainnya.

Sejatinya, memaknai emansipasi harus sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Allah dan Rasul-Nya. Silahkan wanita bekerja, berpolitik, menggapai pendidikan setinggi mungkin, namun tugasnya dalam rumah tangga dan keluarga harus diprioritaskan. Kartini pun telah mengajarkan demikian. Dalam perjuangannya beliau tidak serta merta meninggalkan suami dan keluarga, tapi malah menjadi prioritas dan pemicu semangat. Wallahu a’lam bi al-showab.

 

2 thoughts on “Emansipasi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *